Menu
0813-1126-3588

Pulogebang Indah Blok K6 No. 10B, Cakung, Jakarta Timur

Hukum Denda dalam Hutang Piutang Menurut Islam

Saturday, January 23rd 2016.

Hukum Denda dalam Islam, Hukum Islam tentang Denda Hutang, Hukum Denda Hutang dalam Pandangan Islam, Hukum Denda Menurut Islam

Hukum Denda Hutang Menurut Islam

Hukum Denda Hutang Menurut Islam

Pada masa Kapitalistik seperti saat ini, nyaris merata Interaksi dan Transaksi diukur berdasarkan Materi/Manfaat semata. Denda merupakan praktik yang digunakan hampir dalam setiap transaksi Hutang piutang dan Pembayaran sebagai sangsi atau meningkatkan kedisiplinan pembayaran. Karena begitu meratanya praktik ini hingga mengakibatkan pembenaran atau pembiasaan dibenak masyarakat bahwa ini adalah perkara yang wajar dan tak terhindarkan.

Jika ditelisik lebih mendalam, Denda menjadi konsekuensi yang logis pada masyarakat yang tidak islami, dimana Kepercayaan dan Amanah menjadi perkara Langka, pudarnya Ikatan Ruhiyah dalam diri Individu masyarakat terhadap aturan penciptanya dan lemahnya keimanan akan Kepastian hari pembalasan. Maka Logika sangsi berupa Denda seakan satu-satunya dan tak terhindarkan untuk memotivasi kedisiplinan/ketaatan.

Yang lebih memprihatinkan, skema denda juga digunakan oleh perbankan/pembiayaan berlabel Syariah. Mereka beralasan bahwa denda tersebut akan digunakan untuk aktifitas sosial, disedekahkan, dan lainnya. Padahal jelas Rasulullah saw dan Allah swt berfirman :

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik-baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kaum beriman dengan apa-apa yang diperintahkan kepada para nabi.”

Lalu Beliau membaca: “Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.” (QS. Al Mu’minun (23): 51).

Dan membaca: “Wahai orang-orang beriman makanlah yang baik-baik dari apa-apa yang Kami rezekikan kepada kalian.” (QS. Al Baqarah (2): 172).

Lalu Beliau menyebutkan ada seorang laki-laki dalam sebuah perjalanan yang jauh, kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit: “Wahai Rabb, wahai Rabb,” sedangkan makanannya haram, minumannnya haram, pakaiannya haram dan dia dikenyangkan dengan yang haram, bagaimana bisa doanya dikabulkan?” (HR. Muslim)

Tapi yang pentingkan Niat nya baik…!!

Syarat suatu amal dikatan Baik (Ihsanul ‘amal) yang diterima Allah swt ada 2 :

  1. Niat yang Baik Ikhlas untuk mencapai keridhoan Allah SWT
  2. Amalan/Perbuatan tersebut sesuai dengan printah Allah swt dan Rasul Nya

Rumusannya :

Niat Benar + Cara Benar = Amal Shalih ❤️
Niat Benar + Cara Salah = Amal Buruk 💔
Niat Salah + Cara Benar = Amal Buruk 💔
Niat Salah + Cara Salah = Amal Buruk 💔

Sehingga kita tidak akan pernah mengatakan seorang Koruptor itu baik meski niatnya mulia untuk menafkahi keluarganya, membangun masjid, naik haji, dan seterusnya.

Demikian pula seorang Ahli Ibadah tapi niatnya agar dianggap orang alim, bukan untuk memperoleh keridhoan Allah swt………atau seseorang yang bersedekah, membangun pesantren, dlltapi niatnya karena ingin dipuji, agar dianggap dermawan, meski rezekinya dari yang Halal.

Denda secara Fakta Hukum terkategori sebagai salah satu jenis Riba, yaitu Riba Nasii`ah. Riba Nasii`ah adalah praktik transaksi yang umum dilakukan pada masyarakat jahiliah dahulu, yaitu tambahan yang diambil karena penundaan pembayaran utang untuk dibayarkan pada tempo yang baru, sama saja apakah tambahan itu merupakan sanksi atas keterlambatan pembayaran hutang, atau sebagai tambahan hutang baru.

Misalnya, si A meminjamka uang sebanyak 200 juta kepada si B; dengan perjanjian si B harus mengembalikan hutang tersebut pada tanggal 1 Januari 2009; dan jika si B menunda pembayaran hutangnya dari waktu yang telah ditentukan (1 Januari 2009), maka si B wajib membayar tambahan atas keterlambatannya; misalnya 10% dari total hutang. Tambahan pembayaran di sini bisa saja sebagai bentuk sanksi atas keterlambatan si B dalam melunasi hutangnya, atau sebagai tambahan hutang baru karena pemberian tenggat waktu baru oleh si A kepada si B. Tambahan inilah yang disebut dengan riba nasii’ah.

Adapun dalil pelarangannya adalah hadits yang diriwayatkan Imam muslim;

الرِّبَا فِيْ النَّسِيْئَةِ

” riba itu dalam nasi’ah”.[HR Muslim dari Ibnu Abbas]

Ibnu Abbas berkata: Usamah bin Zaid telah menyampaikan kepadaku bahwa Rasulullah saw bersabda:

آلاَ إِنَّمَا الرِّبَا فِيْ النَّسِيْئَةِ

Ingatlah, sesungguhnya riba itu dalam nasi’ah”. (HR muslim).

Dalam Islam jelas terdapat perintah untuk menyegerakan pembayaran Hutang saat sudah memiliki kemampuan untuk membayarnya.

Sabda Nabi Muhammad SAW:

Tindakan menunda pembayaran utang oleh orang kaya adalah suatu kezaliman.” (HR Bukhari).

“Tindakan orang mampu [menunda pembayaran utangnya] telah menghalalkan kehormatannya dan sanksi kepadanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasa`i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).

Denda semacam ini mirip dengan riba jahiliyah (riba nasi`ah), yaitu tambahan dari utang yang muncul karena faktor waktu/penundaan. Padahal justru riba inilah yang diharamkan saat Al-Qur`an turun (QS Al-Baqarah : 275). Maka apapun namanya, ia tetap riba, baik diambil dari orang yang mampu atau tidak, baik disyaratkan di awal akad atau tidak. (Abdullah Mushlih & Shalah Shawi, ibid., hal. 338).

Penjelasan Keharaman Denda adalah :

Pertama, meski orang mampu yang menunda pembayaran utang layak dihukum, tapi tak pernah ada sepanjang sejarah Islam seorang pun qadhi (hakim) atau fuqaha yang menjatuhkan hukuman denda. Padahal kasus semacam ini banyak sekali terjadi di berbagi kota di negeri-negeri Islam. Jumhur fuqaha berpendapat hukumannya adalah ta’zir, yaitu ditahan (al-habs) meski sebenarnya boleh saja bentuk ta’zir lainnya. (Abdullah Mushlih & Shalah Shawi, ibid., hal. 338; Ali As-Salus, ibid., hal. 449).

Hal itu karena sudah maklum bahwa pemberi utang hanya berhak atas sejumlah uang yang dipinjamkannya, tidak lebih. Baik ia mendapatkannya tepat pada waktunya atau setelah terjadi penundaan. Tambahan berapa pun yang diambilnya sebagai kompensasi dari penundaan pembayaran tiada lain adalah riba yang diharamkan. (Ali As-Salus, ibid., hal. 449).

Kedua , denda karena terlambat membayar utang mirip dengan riba, maka denda ini dihukumi sama dengan riba sehingga haram diambil. Kaidah fiqih menyebutkan : Maa qaaraba al-syai’a u’thiya hukmuhu (Apa saja yang mendekati/mirip dengan sesuatu, dihukumi sama dengan sesuatu itu). (M. Shidqi Burnu, Mausu’ah al-Qawa’id Al-Fiqhiyah, 9/252).

Kesimpulannya, menjatuhkan denda karena terlambat membayar utang atau angsuran utang hukumnya haram karena termasuk riba.

Wallahu a’lam.

Properti Terbaru

Promo
Perumahan Syariah Bogor Ciampea Taman Darussalam

Perumahan Syariah Bogor Ciampea Taman Darussalam

180.950.000
Ciampea, Bogor
Lt/Lb : 27 m² / 60 m²
Lihat Detail »
Promo
Kredit Rumah Syariah Cikarang Selatan Cirendeu Gelagah Hills Tanpa Bank Tanpa Riba

Kredit Rumah Syariah Cikarang Selatan Cirendeu Gelagah Hills Tanpa Bank Tanpa Riba

Rp 1.711.878.125
Cirendeu, Tangerang Selatan
Lt/Lb : 103 m² / 90 m²
Lihat Detail »
Rekomended
Perumahan Syariah Jakarta Timur Cipayung Mangifera Residence Tanpa Bunga Tanpa Riba
Promo
Kredit Perumahan Murah Syariah Cilebut Bogor

Kredit Perumahan Murah Syariah Cilebut Bogor

Rp 398.000.000
Cilebut, Bogor
Lt/Lb : 72 m2 m² / 36 m2 m²
Lihat Detail »