Kredit Rumah Murah Syariah 100% Tanpa Bank, Tanpa Bunga, Tanpa Denda, Tanpa Sita

Hati-hati Pada Muamalah yang Tak Syar’i

Sunday, January 24th 2016.

Hadits Rasulullah saw:

“Akan datang kepada manusia suatu masa, di mana orang tiada peduli akan apa yang diambilnya; apakah dari yang halal ataukah dari yang haram”. (HR al-Bukhari, Ahmad, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, ad-Darimi dan Ibnu Asakir dari Abu Hurairah)

Hati-hati Pada Muamalah yang Tak Syar’i

Hati-hati Pada Muamalah yang Tak Syar’i

Hadist-Rasulullah

Suatu ketika, karena amat lapar, Abu Bakar ash-Shiddiq segera menyambar sekaligus melahap makanan yang dihidangkan oleh pembantunya. Ini, tentu saja, di luar kebiasaan beliau yang selalu berhati-hati terhadap kehalalan makanan. Setelah beberapa suap makanan masuk ke mulut beliau, lalu ke tenggorokan dan terus berjalan menuju perut beliau, beliau tiba-tiba sadar. Beliau lalu bertanya kepada pembantunya, “Dari mana makanan ini?” Pembantunya menjawab, “Dulu sebelum masuk Islam, saya biasa mendatangi seorang dukun. Kemarin saya berjumpa dengan dia, lalu dia menghadiahi aku makanan ini.” Mendengar itu, Abu Bakar ash-Shiddiq terperanjat. Spontan, beliau lalu memasukkan jari-jemarinya ke tenggorokannya. Beliau berusaha memuntahkan kembali makanan yang baru saja beliau lahap. Seketika, seluruh isi perutnya keluar, tak tersisa lagi sedikit pun (HR al-Bukhari).

Dalam kisah yang berbeda, Umar bin al-Khaththab ra melakukan hal yang sama. Beliau berusaha memuntahkan kembali air susu yang telanjur diminum dan masuk ke perutnya. Itu dilakukan setelah tahu bahwa air susu itu dikhawatirkan berasal dari unta sedekah milik Baitul Mal (Negara Khilafah, pen.) (Al-Kandahlawi, Fadha-il A’mal, hlm. 590).

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari dua kisah di atas?

Pertama: Abu Bakar ra dan Umar bin al-Khaththab ra adalah dua orang sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga. Kekhawatiran mereka yang amat besar terhadap hal-hal yang syubhat tentu saja merupakan cermin ketakwaan dari kedua ahli surga itu.

Kedua: Bagi sebagian kita, memakan makanan yang syubhat—meski zatnya halal—mungkin bukan perkara besar. Namun, bagi kedua orang sahabat Nabi SAW yang mulia ini, perkara-perkara syubhat sekali pun—yang belum tentu mutlak haram—sudah dianggap masalah besar. Ini karena mereka amat paham, hal-hal yang syubhat amat dekat dengan keharaman, sebelum benar-benar terbukti kehalalannya. Mereka pun amat paham, makanan haram, meski hanya sesuap, akan menjadi bahan bakar api neraka yang bisa membakar perut dan tubuhnya di akhirat nanti.

Alhamdulillah, sebagian muslim sudah memiliki kepekaan yang tinggi terhadap makanan yang haram atau syubhat. Sebagian mereka cukup peka terhadap makanan/minuman yang mengandung unsur babi, khamar/alkohol atau zat yang mengandung dharar (bahaya).

Namun sayang, kepekaan mereka terhadap perkara-perkara syubhat, bahkan haram, yang menyangkut bagaimana memperoleh makanan (baca:muamalah) justru amat lemah. Kalaupun sebagian muamalah haram itu sudah dipahami dan mungkin ditinggalkan, seperti riba, sebagian besar muamalah yang lain masih banyak tidak dipahami sehingga masih banyak dilakukan. Seolah-olah dosa muamalah hanyalah riba. Padahal selain riba—yang notabene merupakan dosa besar—banyak muamalah keseharian umat ini yang syubhat bahkan haram. Masalahnya, banyak muamalah saat ini—baik terkait jual-beli, usaha jasa, sewa-menyewa ataupun kemitraan bisnis—justru dianggap biasa oleh kaum muslim. Padahal kebanyakan muamalah tersebut didasarkan pada akad-akad atau transaksi yang fasad, bahkan batil. Ini karena kebanyakan muamalah tersebut sering didasarkan pada prinsip atau aturan yang tidak berasal dari ajaran Islam, tetapi semata-mata berasal dari prinsip dan aturan manusia yang berasaskan Manfaat semata, yang lahir dari ideologi kapitalisme atau akidah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan).

Selain itu, meski berbagai bentuk muamalah tersebut mendatangkan banyak keuntungan kepada sebagian orang, bahkan bisa menghasilkan kekayaan yang berlimpah, yakinlah kekayaan itu tak akan mendatangkan keberkahan dan kebahagiaan. Sebagaimana kata Imam an-Nawawi al-Bantani dalam kitabnya, Nashaih al-‘Ibad, keberkahan dan kebahagiaan (al-‘afiyat) di dunia salah satunya hanya akan bisa diraih melalui harta yang diperoleh dengan cara-cara yang halal. Sebaliknya, kesempitan dan kebahagiaan hidup—meski di tengah keberlimpahan harta—tak akan bisa direguk jika harta berlimpah tersebut diperoleh dengan cara-cara yang haram.

Pertanyaannya: Sudahkah harta kita diperoleh melalui cara-cara (muamalah) yang sesuai syariah? Tidakkah kita takut jika muamalah kita mencelakakan kita dan keluarga kita?

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

 

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’Raf :96)

Wama tawfiqi illa billah.

Properti Terbaru

Ruko 4 Lantai Bogor Strategis Tanpa

terbaik
2.650.000.000
Bogor Kota
Lt/Lb : / 5 x 15 meter
Lihat Detail »

Perumahan Rumah Murah Bogor IPB Dra

terbaik
360.000.000
Dramaga, Bogor
Lt/Lb : 78, 90 m2 / 36, 45 m2
Lihat Detail »

Rumah Murah Sukabumi Tanpa Bank Typ

promo
Rp 275.000.000
Jl Pelabuhan II, Sukabumi
Lt/Lb : 72 m2 / 39 m2
Lihat Detail »

Perumahan Murah Cikarang Type 36 54

promo
340.000.000
Cikarang Pusat
Lt/Lb : 72 - 82 m2 / 36 - 54 - 72 m2
Lihat Detail »

Kredit Rumah Murah Syariah Serpong

promo
Rp 327.000
Serpong
Lt/Lb : 72 m2 / 48 m2
Lihat Detail »

Rumah Murah Syariah Bandung Ciparay

promo
Rp 292.000.000
Ciparay, Bandung
Lt/Lb : 72 m2 / 36, 45 m2
Lihat Detail »

Rumah Murah 2 Lantai Cibinong Bogor

terbaik
Rp 850.000.000
Cibinong, Bogor
Lt/Lb : 100 m2 / 90 m2
Lihat Detail »

Kredit Perumahan Murah Syariah Cile

promo
Rp 350.000.000
Cilebut, Bogor
Lt/Lb : 72 m2 / 36 m2
Lihat Detail »